Metode Dakwah

Makalah, Metode Dakwah.

 

PENDAHULUAN

                Salah satu arti dakwah adalah usaha atau aktifitas dengan lisan atau tulisan dan lainnya yang bersifat menyeru, mengajak, memanggil manusia lainnya untuk beriman dan mentaati Allah SWT sesuai dengan garis-garis aqida syariat serta akhlak islamiyah. Dalam pelaksanaan dakwah ini, selayaknya harus mengetahui metode-metode dalam penyampaiannya,  yang mana Al-Quran telah mengisyaratkan sebagai tuntunan dalam metode tersebut.

Dalam menerangkan cara-cara berdakwah tersdebut, Allah SWT berfirman:

 ادع إلي سبيل ربك باالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم باالتي هي احسن إن ربك هو اعلم بمن ضل عن سبيله وهو اعلم باالمهندين {النحل:125}

“Serulah kepada jalan tuhanmu dengan hikmah, mauidzah hasanah, dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik, Tuhanmu Maha Mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan ia Maha Mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”.

 Dari ayat di atas jelaslah bahwa seorang juru dakwah harus memperhatikan metode-metode tersebut sehingga visi dan misi dalam berdakwah dapat tercapai, yang mana susunan metode tersebut disajikan sebagai acuan dalam berdakwah sesuai kondisi dan situasi.

 

 

Bab 1 Metode Hikmah

            Hikmah secara bahasa memiliki beberapa arti: al-‘adl, al-ilm, al-Hilm,               al-Nubuwah, al-Qur’an, al-injil, al-Sunnah dan lain sebagainya. Hikmah juga diartikan   al-‘llah, atau alasan suatu hukum, diartikan juga al-kalam atau ungkapan singkat yang padat isinya.Seseorang disebut hakim jika dia didewasakan oleh pengalaman, dan sesuatu disebut hikmah jika sempurna.

            Dalam bahasa komunikasi hikmah menyangkut apa yang disebut sebagai frame of  reference, field of reference dan field of experience, yaitu situasi total yang mempengaruhi sikap terhadap pihak komunikan (obyek dakwah).[1]                                                        Dengak kata lain bi al-hikmah merupakan suatu metode pendekatan komunikasi yang dilakukan atas dasar persuasife. Karena dakwah bertumpu pada human oriented, maka konsekuensi logisnya adalah pengakuan dan penghargaan pada hak-hak yang bersifat demokratis, agar fungsi dakwah yang utama adalah bersifat informatif.

            Para ulama telah mendenifisikan kata hikmah secara istilahi yang diambil dari pengertian bahasa tersebut, antara lain:

  1. Al-Hikmah; “mencapai kebenaran dengan ilmu dan akal.” Al-Hikmah dari Allah adalah mengetahui sesuatu dan menciptakannya secara sempurna. Dan hikmah bagi manusia adalah mengetahui apa-apa yang diciptakan Allah dan berbuat baik.
  2. Pengertian laain, hikmah adalah mengetahui suatu yang terbaik dengan pengetahuan yang paling baik.
  3. Meletakan sesuatu pada tempatnya.
  4. Ketepatan ucapan dan perbuatan secara bersamaan.

 

Ibnu Katsir menafsirkan kata hakim, dengan keterangannya, hakim dalam perbuatan dan ucapan, hingga dapat meletakan sesuatu pada tempatnya.

Dari berbagai pengertian ini, jelaslah bahwa apa yang dimaksud metode hikmah adalah metode meletakan sesuatu pada tempatnya, dengan demikian berarti mencakup semua teknik dakwah.

 

 

Dasar-dasar Metode Hikmah

Kelebihan metode hikmah ini nampak pada beberapa hal berikut:

  1. Dari makna hikmah yang mengakomodir kedua ikmah teoritis dan praktis, dan seorang tidak dikatakan hakim (bijak) jika tidak bisa berbuat bijak secara teoritis dan praktis.
  2. Allah sendiri memilih kata hakim sebagai salah satu nama-Nya yang diulang dalam Al-Qur’an lebih dari 80 kali.
  3. Hikmah merupakan salah satu isi hati Nabi saw. Sebagaimana dalam hadits disebutkan: “Dibukalah atap rumahku dan akku di Makkah, lalu turunlah Jibril, lalu di belah dadaku, kemudian dicuci dengan air zamzam, lalu ia membawa bokor emas yang berisikan hikmah dan iman, kemudian dituangkan dalam dadaku, lalu dikukuhkannya.”(Muttafaq Alai).
  4. Diantara pekerjaan Rosululla saw. adalah  mengajaarkan hikmah, “Dan dia mengajarkan kamu hikmah  dan kitab.”
  5. Allah menganjurkan untuk berdakwah dengan metode ini: “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan mau’idzoh hasanah” (QS. An-Nahl: 125).
  6. Pemberian yang paling berharga yang di berikan kepada manusia: “Ia memberi hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya, barang siapa yang diberi hikmah berarti telah diberi kebaikan yang banyak” (QS. Al-baqarah: 269)
  7. Seseorang boleh iri karena hikmah yang didapat orang lain di dunia ini. Hadits Rasul saw.: “Tidak ada iri kecuali dalam dua hal; kepada seseorang yang diberi harta oleh Allah lalu dia bisa menguasainya dengan hak hingga tidak mengahncurkan dirinya, dan seseorang yang diberi hikmah lalu ia mengamalkan dan mengajarkannya.[2]  

 

Al-ilm yang merupakan salah satu arti bahasa dari kata hikmah, merupakan isyarat bagi manusia untuk membekali dirinya dengan ilmu pengetahuan. Sebagai satu-satunya din Allah (QS. Ali Imran: 19,85), islam adalah manhaj al-hayat atau way of life, acuan dan kerangka tata nilai kehidupan. Memahami islam sebagai way of life harus terkait satu bagian dengan bagian lainnya. Sebagai satu tata nilai, islam tidaklah sekedar baik sebagai landasan etis dan moral, tetapi ajarannya bersifat operasional dan aplikatif dalam segala segi kehidupan manusia.[3]

 

Ajaran islam bukan saja mendorong umatnya untuk senantiasa mencari dan mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan , tetapi juga mendorongnya untuk mengamalkan ilmu itu di tengah kehidupan.

“Ilmu itu ruhnya islam dan tiangnya iman; barangsiapa yang mengajarkan ilmu, maka Allah akan menyempurnakan pahalanya. Barangsiapa belajar satu ilmu lalu mengamalkannya, maka Allah mengajarinya ilmu pengetahuan yang belum ia ketahui sebelumnya.”(HR Abu Syaikh)

Ciri-ciri ikmah dari segi tekhnis    

  1. Memilih metode yang sesuai untuk diterapkan pada situasi dan kondisi yang tepat, karena sering kali suatu metode hanya sesuai untuk situasi tertentu dan untuk menghadapi kondisi tertentu saja, namun tidak sesuai pada kondisi yang lainnya. Untuk menghadapi kondisi emosional harus menggunakan metode emosional, sebagaimana metode rasional dipakai untuk kondisi yang rasional, demikian juga metode empirik anya bisa dipakai pada kondisi empirik.
  2. Memilih format yang cocok dari tekhnis yang dipakai. Banyak format dari satu tekhnis dakwah, dan “hikmah” menuntut adanya pemilihan format yang sesuai untuk berbagai situasi. Apa yang dikatakan dalam kondisi “bahagia” berbeda dengan apa yang disampaikan pada kondisi “sedih.” Apa yang disampaikan saat kondisi  “sulit dan pailit” berbeda dengan saat “serba mudah dan makmur.” Ada tempat saat menyeru (persuasif), ada tempat saat melarang (preventif). Bagi orang penakut misalkan, maka baik dipakai tekhnis persuasif dan pengharapan; sedangkan bagi orang yang dikuasai ambisi dan pengharapan, sebaiknya dengan tekhnis preventif, dst.
  3. Berpedoman terhadap skala prioritas; yaitu mulai dari memberi peringatan, kemudian nasihat, kemudian ketegasan lalu dengan tindakan keras (bil yad), ancaman dan terakhir dengan pukulan.

      Firman Allah:

واللاتي تخافون نشوزهن فعظوهن واهجروهن في ا لمضاجع واضربوهن

 فإن اطعنكم فلا تبغوا عليهن سبيلا إن الله كان عليا كبيرا {النساء: 34}

      

       “Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka , tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka.Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alas an untuk menyusakannya. Sungguh, allah Mahatinggi, Mahabesar.

 

  1. Menginventarisir factor-faktor pendukung dan sarana dakwah yang dapat diamati dalam rangka memilih tekhnis yang dipakai dan bersifat preventif. Metode menghadapi orang bodoh sangatlah berbeda dengan metode menghadapi musuh, sebagaimana metode menghadapi orang lemah berbeda dengan menghadapi seorang penantang yang juga fanatic.

 

Bab 2 Metode Mauidzah Hasanah (nasihat)

Secara etimologis, mauidzoh merupakan bentukan dari kata wa’adza-ya’idzu-iwa’dzan dan ‘idzata; yang berarti “menasihati dan mengingatkan akibat suatu perbuatan,” berarti juga “menyuruh untuk mentaati dan memberi wasiat agar taat.”

Alhasanah  merupakan lawan dari sayyiat ;maka dapat dipaami bawa mauidza dapat berupa kebaikan, dapat juga kejahatan; hal itu tergantung pada isi yang disampaikan seseorang dalam memberikan nasihat dan anjuran , juga tergantung pada merode yang dipakai pemberi nasihat.

Atas dasar itu, maka pengertian untuk mauidzah disertai dengan sifat kebaikan, “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan mauidzah hasanah…..” Karena kalau kata mauidzah dipakai tanpa embel-embel dibelakangnya, pengertiannya harus dipaami sebagai mauidzah hasanah;

واللاتي تخافون نشوزهن فعظوهن واهجروهن في ا لمضاجع واضربوهن

 فإن اطعنكم فلا تبغوا عليهن سبيلا إن الله كان عليا كبيرا {النساء: 34}

“Maka berilah ia nasihat yang baik, lalu biarkan dia tidur sendirian, lalu       pukullah dia…….”

 

Ali Mustafa Yaqub mengatakan bahwa Mauidzah al Hasanah adalah ucapan yang berisi nasehat-nasehat yang baik di mana ia dapat bermanfaat bagi orang yang mendengarkannya, atau argumen-argumen yang memuaskan sehingga pihak audience dapat membenarkan apa yang disampaikan oleh subyek.[4] 

Menurut filosof Tanthawy Jauhari, yang dikutip Faruq Nasution mengatakan bahwa Mauidzah al Hasanah adalah Mauidzah Ilahiyah yaitu upaya apa saja dalam menyeru /mengajak manusia kepada jalan kebaikan (ma yad’u ila al shale) dengan cara rangsangan ,enimbulkan cinta (raghbah) dan rangsangan yang menimbulkan waspada (rahbah).[5]

Cukup sederhana, teetapi mengandung ke dalam uraian yang cukup luas, karena raghbah dan rahbah yang dimaksudkan ole Syaikh al Islam itu adalah merupakan kebutuhan emosional dan manfaat ganda di dalam kehidupan yang wajar dan sehat (to satisty emosional needs and gain stability of life) sehingga di dalam konteks sosiologis, suatu kelompok akan merasakan bahwa seruan agama (islam) memberi semangat dan kehidupan yang cerah baginya. Mereka tidak merasa tersinggung atau merasa dirinya dipaksa menerima suatu gagasan atau ide tertentu. Upaya untuk menghindari rasa tersinggung atau paksaan ini tercermin dalam ayat Al-Quran:

 

فبما رحمة من الله لنت لهم ولو كنت فظا غليظ القلب لانفضوا من حولك………..

 

“Maka disebabkan Rahmat dari Allah, kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati (bersikap) kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…….

 

 

Dan bawha aktifitas dakwah adalah dengan mauidzah yang mengarah kepada pentingnya manusiawi dalam segala aspeknya. Sikap lemah lembut (affection) menghindari sikap egoism adala warna yang tidak terpisahkan dalam cara seseorang melancarkan idea-ideanya untuk mempengaruhi orang lain secara persuasive dan bahkan coersive (memaksa).

Caranya dengan mempengaruhi obyek dakwah atas dasar pertimbangan psikologis dan rasional. Maksudnya sebagai subyek dakwah harus memperhatikan semua determinan psikologis dari obyek dakwah berupa frame of reference (kerangka berpikir) dan field experience (lingkup pengalaman hidup dari obyek dakwah dan sebagainya). Dalam hal ini Nabi memberikan petunjuk melalui sabdanya:

خا طبوا الناس علي قدر عقولهم.

“Berbicaralah dengan mereka (manusia) itu sesuai dengan kemampuannya”.

 

Jadi setelah mengalami frame of experience dari obyek dakwah, seorang da’I diwajibkan menyampaikan nasehat-nasehatnya dengan nasehat yang factual berupa mauidzah hasanah agar pihak obyek dakwah dapat menentukan pikiran teradap rangsangan, psikologis yang mempengaruhi dirinya.

Dan kemudian Metode Mauidzah Hasanah ini memiliki beberapa dasar yang menjadi acuan supaya melaksanakan metode ini diantaranya:

  1. Ada perintah yang jelas untuk menggunakan metode tersebut:

 

ادع إلي سبيل ربك باالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم باالتي هي احسن إن ربك هو اعلم بمن ضل عن سبيله وهو اعلم باالمهندين {النحل:125}

“Serulah kepada jalan tuhanmu dengan hikmah, mauidzah hasanah…………………………..”

وعظهم وقل لهم في انفسهم قولا بلبغا {النساء:63}

“Dan nasihatilah mereka, serta sampaikanlah kepada mereka, pada jiwa mereka, perkataan yang mengena.”

 

  1. Rasululah saw. Menjadikan nasihat sebagaidasar agama, dengan sabdanya: “Agama adalah nasihat” dan nasihat adalah sini\onim dari mauidzah hasanah sebagaimana telah diungkap dahulu.
  2. Rasululas saw.  membai’at sahabat agar member nasihat kepada setiap muslim, dalam hadits diungkapkan, “Aku dibai’at pleh Rasululah saw. untuk mendirikan shalat, mengeluarkan zakat dan member nasihat kepada seluruh muslim.”
  3. Para Nabi menggunakannya , sebagaimana diceriatakan dari Nuh as.

وانصح لكم

“….Dan aku menasihati kamu sekalian.”

وانا  لكم ناصح امين {الأعراف:68}

Aku adalah pemberi nasihat yang dapat dipercaya.”

 

 

Bab 3 Metode Berdebat

Berdebat menurut bahasa berarti berdiskusi atau beradu argumen.Di sini, berarti berusaha untuk menaklukan lawan bicara sehingga seakan ada perlawanan yang sangat kuat terhadap lawan bicara serta usaha untuk mempertahankan argumen dengan gigih.

Secara epistemologis, berdebat sebagaimana didefinisikan para ulama adalah:

  1. Usaha yang dilakukan seseorang dalam mempertahankan argumen untuk menghadapi lawan bicaranya.
  2. Cara yang berhubungan dengan pengukuhan pendapat atau madzhab.
  3. Membandingkan berbagai dalil atau landasan untuk mencari yang paling tepat.

Perdebatan memiliki dua sifat; dengan cara baik dan dengan cara yang tidak baik. Sebagaimana firman Allah:

وجادلهم باالتي هي أحسن {النحل:125}

 

“Debatlah mereka dengan cara yang lebi baik.”

 

ويجادل الذين كفروا باالباطل ليدحضوا به الحق {الكهف:56}

 

“Dan orang kafir mendebat dengan alas an yang bathil untuk melenyapkan kebenaran…”

 

Melihat berbagai macam perdebatan ini, Al-Quran menyarankan perdebatan yang terbaik sehingga menjadi metode yang dianjurkan, sebagai yang diungkapkan dalam nashnya sebagai salah satu metode dakwah. Metode perdebatan yang baik tersebut merupakan salah satu metode dakwah rasional (nabhaj aqly) adapun bentuknya bias berupa diskusi, tukar pandangan, atau dialog.

Sayyid Qutb menyatakan bahwa dalam menerapkan metode diskusi dengan cara yang baik perlu diperhatikan hal-hal berikut:

  1. Tidak merendahkan pihak lawan, atau menjelek-jelekan, karena tujuan diskusi bukan mencari kemenangan, melainkan memudahkannya agar ia sampai pada kebenaran.
  2. Tujuan diskusi semata-mata untuk menunjukan kebenaran sesuai dengan ajaran Allah.
  3. Tetap menghormati pihak lawan, sebab jiwa manusia tetap memiliki harga diri. Karenanya harus diupayakan ia tidak merasa kalah dalam diskusi dan merasa tetap dihargai dan dihormati.[6]

 

Dasar-dasar Metode Perdebatan

  1. Debat merupakan fitrah manusia. Dari sini manusia bisa dilihat menjadi dua kategori; baik dan tidak baik. Jika dilihat dari sifatnya, apakah dia membantah teradap kebenaran atau sebaliknya.

وكان الإنسان أكثر شيئ جَدَلا {الكهف:54}

“Adalah tabiat manusia dalam banyak hal selalu membanta”

يجادلونك في الحق بعد ما تبين {الأنفال:6}

“Mereka membantahmu setelah mendengar kebenaran yang nyata.”

  1. Allah memerintahkan untuk menggunakan metode berdebat. Firman Allah:

ولا نجادلوا أهل الكتاب إلا با التي هي أحسن {العنكبوت:46}

“Dan janganlah kamu mendebat ahlul- kitab kecuali dengan cara dan alas an yang terbaik…”

  1. Metode ini digunakan oleh para Nabi dalam dakwah mereka:

Ini dapat dilihat dari kisah yang diceritakan Allah dalam al-Quran tentang Nabi Nuh as. Ayatnya sebagai berikut:

قالوا يا نوح قد جادلتنا فأكثرت جِدالنا {هود:32}

“Hai nuh, kamu telah mendebat kami, mendebat kami dalam banyak hal….”

  1. 4.      Dipakai dalam dakwah; sejak masa Rasul hingga sekarang.

Metode ini dipakai sejak masa sahabat hingga sekarang, para ulama salaf menggunakannya dengan baik, dan mereka menghindari perbuatan debat yang tercela.

 

Dalam hal ini selayaknya orang yang melaksanakan kegiatan dakwah harus memiliki kemampuan-kemampuan yang berkaitan dengan metode ini meliputi:

  1. Kemampuan Berkomunikasi
  2. Kemampuan Menguasai Diri
  3. Kemampuan Pengetahuan Psikologi
  4. Kemampuan Kengetahuan Kependidikan
  5. Kemampuan Pengetahuan di Bidang Pengetahuan Umum
  6. Pengetahuan di Bidang Ilmu al-Quran
  7. Kemampuan Membaca Al-Quran dengan fasih
  8. Kemampuan Pengetahuan di Bidang Ilmu Hadits
  9. Kemampuan di Bidang Ilmu Agama secara Umum[7]

Dari beberapa keterangan diatas, setidaknya juru dakwah dapat membekali dirinya dengan mantap, sehingga dapat menggunakan metode ini dengan baik.

Metode keteladanan (Qudwah Hasanah)

Menurut bahasa, qudwah berarti uswah; yang berati keteladanan atau contoh. Meneladani atau menyontoh, sama dengan mengikuti suatu pekerjaan yang dilakukan sebagaimana adanya. Yang dimaksud keteladanan di sini adalah keteladanan yang baik.Dalam ayat yang dikemukakan di muka, keteladan sengaja diberi sifat baik, karena dalam prakteknya, bisa saja seseorang menjadi teladan yang buruk. Dalam hadits diungkapkan: “Barangsiapa yang membuat tradisi baik, maka baginya pahala atas apa yang dilakukannya serta pahala orang lain yang mengikuti tradisi tersebut tanpa mengurangi pahala merekayang mengikutinya sedikitpun. Dan barangsiapa yang membuat tradisi buruk, maka baginya dosa serta dosa yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa para pengikutnya sedikitpun. (HR. Muslim).

Dalam islam, qudwah hasanah dapat dibedakan pada dua bagian;

  1. Qudwah hasanah yang bersifat mutlak, yaitu suatu teladan atau contoh baik yang sama sekali tidak tercampuri keburukan karena statusnya benar-benar baik; sebagai teladan yang diberikan Rasululah saw.  pada ummatnya. Status rasul yang ma’shum (terbebas dari dosa), membuat beliau menjadi teladan yang mutlak bagi ummatnya. Firman Allah SWT:

لقد كان لكم في رسول لله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الأخر وذكر الله كثيرا {الأحزاب:21}

  1. Qudwah hasanah nisbi yaitu teladan yang terikat dengan yang disyariatkan oleh Allah SWT. Karena status teladan itu dari manusia biasa bukan Rasul ataupun Nabi. Keteladanan dari mereka, seperti para ulama dan pemimpin umat lainnya, hanya sebatas jika tidak bertentangan dengan syariat.

Personal approach atau pendekatan personal sebagai metode keteladanan sudah dilakukan oleh Nabi semenjak turunnya wahyu, yaitu yang dengan secara langsung memberikan contoh, dan karena di antara fitrah manusia adalah suka mengikuti, dan pengaruh asimilasi tersebut lebih besar.Pengaruh yang diterima lebi membekas karena sifatnya fitri dan alami.

 

 

 

 

KESIMPULAN

            Sejatinya manusia adalah suci sebagai fitrahnya, dan tatkala sebagian manusia melenceng dari fitrahnya maka bagi manusia yang lain supaya meluruskannya. Ketika sebagian manusia telah menyimpang dari ketentuan Allah SWT.  hendaknya  memberi nasihat yang baik, mengajak kembali ke jalan yang benar. Adapun metode-metode dalam dakwah (hikmah, mauidzah hasanah, mujadalah hasanah dan qudwah hasanah) adalah tuntunan yang diterangkan dalam Al-quran (An-Nahl:125) sebagai acuan yang telah dicontohkan oleh Nabi, para ulama, serta orang-orang yang shalih.

 

                                                                                    Metode Dakwah Islam yang Benar

 

 

A.   Definisi Dakwah

Dakwah artinya: Penyiaran, propaganda, seruan untuk mempelajari dan mengamalkan ajaran agama. Dakwah juga berarti suatu proses upaya mengubah suatu situasi kepada situasi lain yang lebih baik sesuai ajaran Islam atau proses mengajak manusia kejalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu agama Islam.

Menurut Al-Qur’an, dakwah adalah : Menyampaikan kebenaran di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala  سبيل ربكdengan metodeبالحكمة والمو عظة الحسنة

Propaganda, mengajak atau menyampaikan sesuatu dapat disebut dakwah jika metode yang digunakan sesuai dengan ayat di atas, yaitu; Bilhikmah dan Mau’idzah Hasanah. Sedangkan yang menetukan hasil dari dakwah adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sedangkan kata dakwah menurut pendapat para ahli ulama adalah :

1.      Menurut Syeh Al-babiy al-khuli, dakwah adalah upaya memindahkan situasi manusia kepada situasi yang lebih baik.

2.      Pendapat Syekh Ali Mahfudz,

“dakwahadalah mengajak manusia untuk mengerjakan kebaikan dan mengikuti petunjuk, menyuruh mereka berbuat baik dan melarang mereka dari perbuatan jelek agar mereka mendapatkebahagiaan di dunia dan akhirat”

Maka, dari pernyataan diatas, dapat saya disimpulkan bahwa dakwah adalah suatu ajakan untuk mengajak umatnya untuk melakukan hal yang baik atau mendekatkan diri kepada allah.

 

B.   Pengertian Metode Dakwah

Dari segi bahasa metode berasal dari dua kata yaitu meta (melalui) dan hodos (jalan, cara). Dalam bahasa Yunani metode berasal dari kata methodos artinya jalan, dalam bahasa Arab disebut dengan thariqat dan manhaj yang mengandung arti tata cara, sementara itu dalam Kamus Bahasa Indonesia metode artinya cara yang teratur dan berfikir baik baik untuk maksud (dalam ilmu pengetahuan dsb); cara kerja yang bersistem untuk memudahkanpelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa yang disebut dengan metode adalah suatu cara yang sudah diatur dangan petimbangan yang matang untuk mencapai tujuan tertentu.

Metode dakwahberarti : Suatu cara atau teknik menyampaikan ayat-ayat Allah dan Sunnah dengan sistematis sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan.

            Berhubung dengan pengertian diatas, maka metode yang digunakan dalam mengajak haruslah sesuai dengan konsidisi maupun tujuan yang akan dicapai. Pemakaian metode atau cara yang tidak benar merupakan keberhasilan dari dakwah itu sendirii. Namun bila metode yang digunakn dalam menyampaikannya tidak sesuai, maka akan mengakibatkan hal yang tidak diharapkan.

 

C.   Bentuk Bentuk Metode Dakwah

 

 

Artinya :

“Serulah manusia ke jalan Tuhanmu, dengan cara hikmah, pelajaran yang baik dan berdiskusilah dengan mereka dengan cara yang baik pula. Sesunggguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jaanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang orang yang mendapat petunjuk”

            Ayat ini mennjelaskan, sekurang kurangnya ada tiga cara atu metode dalam dakwah, yakni Metode Dakwah Al-Hikmah, Metode Dakwah Al-Mau’idzatil Hasanah dan Metode Dakwah Al-Mujadalah Bil Lati Hiya Ahsan. Ketiga metode dakwah dapat dipergunakan sesuai dengan objek yang dihadapi oleh seorang da’I atau da’iyah di medan dakwahnya.

a)      Metode Dakwah Al-Hikmah

Dakwah AL-Hikmah Yakni menyampaikan dakwah dengan cara yang arif bijaksana, yaitu melakukan pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak obyek dakwah mampu melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, tekanan maupun konflik. Dengan kata lain dakwah bi al-hikmah merupakan suatu metode pendekatan komunikasi dakwah yang dilakukan atas dasar persuasif.

Dalam kitab al-Hikmah fi al dakwah Ilallah ta’ala oleh Said bin Ali bin wahif al-Qathani diuraikan lebih jelas tentang pengertian al-Hikmah, antara lain:

Menurut bahasa:

  • adil, ilmu, sabar, kenabian, Al-Qur’an dan Injil
  • memperbaiki (membuat manjadi lebih baik atau pas) dan terhindar dari kerusakan
  • ungkapan untuk mengetahui sesuatu yang utama dengan ilmu yang utama
  • obyek kebenaran(al-haq) yang didapat melalui ilmu dan akal
  • pengetahuan atau ma’rifat.

Menurut istilah Syar’i:

  • valid dalam perkataan dan perbuatan, mengetahui yang benar dan mengamalkannya, wara’ dalam Dinullah, meletakkan sesuatu pada tempatnya dan menjawab dengan tegas dan tepat.

 

Adapun secara terminology, ada beberapa pengertian tentang Hikmah, di antaranya:

1.      Menurut Syeh Mustafa Al-Maroghi dalam tafsirnya mengatakan bahwa hikmah yaitu; Perkataan yang jelas dan tegas disertai dengan dalil yang dapat mempertegas kebenaran, dan dapat menghilangkan keragu-raguan.

2.      Menurut Syekh Muhammad Abduh, hikmah adalah mengetahui rahasia dan faedah di dalam tiap-tiap hal. Hikmah juga digunakan dalam arti ucapan yang sedikit lapaz tetapi banyak makna atau dapat diartikan  meletakkan sesuatu pada tempat atau semestinya.14 Orang yang memiliki hikmah disebut al-hakim yaitu orang yang memiliki pengetahuan yang paling utama dari segala sesuatu. Kata hikmah juga sering dikaitkan dengan filsafat karena filsafat juga mencari pengetahuan hakikat segala sesuatu.

3.      Menurut Imam Abdullah bin Ahmad Mahmud an- Nasafi, arti hikmah yaitu:

Artinya: Dakwah bil hikmah adalah dakwah dengan menggunakan perkataan yang benar dan pasti, yaitu dalil yang menjelaskan kebenaran dan menghilangkan keraguan.

4.      Menurut al-Kasysyaf-nya Syekh Zamakhsyari, al- hikmah adalah perkataan yang pasti benar. Ia adalah dalil yang menjelaskan kebenaran dan menghilangkan keraguan atau kasmaran. Selanjutnya Syekh Zamakhsyari mengatakan hikmah juga diartikan sebagai al-Quran yakni ajaklah mereka (manusia) mengikuti kitab yang memuat hikmah.

5.      Sedangkan menurut Moh. Natsir mengatakan, bahwa hikmah lebih dari semata-mata ilmu.Ia adalah ilmu yang sehat dan mudah dicernakan; ilmu yang berpadu dengan rasa perisa, sehingga menjadi daya tarik penggerak untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat, berguna kalau dibawa kebidang dakwah: untuk melakukan tindakan sesuatu yang berguna dan efektif.

 

Dari pengertian diatas, dapat dipahami bahwa al- hikmah adalah merupakan kemampuan da’I dalam memilih dan menyelaraskan teknik dakwah dengan kondisi objektif mad’u.di samping itu juga, al-hikmah merupakan kemampuan da’I dalam menjelaskan doktrin-doktrin Islam serta realitas yang ada dengan argumentasi logis dan bahasa yang komunikatif. Oleh karena itu, al-hikmah adalah sebagai sebuah system yang menyatukan antara kemampuan teoritis dan praktis dalam dakwah.

 

Dalam dunia dakwah, hikmah adalah salah satu penentu sukses tidaknya kegiatan dakwah.Dalam menghadapi mad’u yang beragam tingkat pendidikan strata social dan latar belakang budaya, para da’I memerlukan hikmah sehingga materi dakwah yang disampaikan mampu masuk ke ruang hati para mad’u dengan tepat.Oleh karena itu para da’I dituntut untuk mampu mengerti dan memahami sekaligus memanfaatkan latar belakangnya, sehingga ide-ide yang diterima dapat dirasakan sebagai sesuatu yang menyentuh dan menyejukkan kalbunya. Di samping itu, da’I juga akan berhadapan dengan realitas perbedaan agama dalam masyarakat yang heterogen. Kemampuan da’I untuk bersifat objektif terhadap umat lain, berbuat baik dan bekerja sama dalam hal-hal yang dibenarkan agama tanpa mengorbankan keyakinan yang ada pada dirinya adalah bagian dari hikmah dalam dakwah.

Da’i yang sukses biasanya berkat dari kepiawaannya dalam memilih kata.Pemilihan kata adalah hikmah yang sangat diperlukan dalam dakwah.Da’I tidak boleh hanya sekedar menyampaikan ajaran agama tanpa mengamalkannya. Seharusnya da’I adalah orang yang pertama yang mengamalkan apa yang diucapkannya. Kemampuan da’I untuk mrnjadi contoh nyata umatnya dalam bertindak adalah hikmah yang seharusnya tidak boleh ditinggalkan oleh seorang da’i.dengan amalan nyata yang bisa langsung dilihat oleh masyarakatnya, para da’I tidak terlalu sulit untuk harus berbicara banyak, tetapi gerak dia adalah dakwah yang jauh lebih efektif dari sekedar berbicara.

Hikmah merupakan suatu term karakteristik metode dakwah sebagaimana termaktub dalam QS.An- Nahl ayat 125.Ayat teersebut mengisyaratkan pentingnya hikmah untuk menjadi sifat dari metode dakwah dan betapa pentingnys dakwah mengikuti langkah-langkah yang mengandung hikmah.Ayat tersebut seolah-olah menunjukkan metode dakwah praktis kepada para da’I yang mengandung arti mengajak manusia kepada jalan yang benar dan mengajak manusia untuk menerima dan mengikuti petunjuk agama dan akidah yang benar. Ayat tersebut juga mengisyaratkan bahwa mengajak manusia kepada hakikat yang murni dan apa adanya tidak mungkin dilakukan tanpa melalui pendahuluan atau tanpa mempertimbangkan iklim dan medan kerja yang sedang dihadapi.

Dengan demikian jika hikmah dikaitkan dengan dunia dakwah, maka ia merupakan peringatan kepada para da’I untuk tidak menggunakan satu bentuk metode saja. Sebaliknya, mereka harus menggunkan berbagai macam metode sesuai dengan realitas yang dihadapi dan sikap masyarakat terhadap Islam. Sebab sudah jelas, dakwah tidak akan berhasil jika metode dakwahnya monoton. Ada sekelompok orang yang hanya memerlukan iklim dakwah yang penuh gairah dan berapi-api, sementara kelompok yang lain memerlukan iklim dakwah yang sejuk.

Hikmah merupakan pokok awal yang harus dimiliki oleh seorang da’I dalam berdakwah. Karena dari hikmah ini akan lahir kebijaksanaan-kebijaksanaan dalam menerapkan langkah-langkah dakwah baik secara metodologis maupun praktis. Kesimpulannya hikmah bukan hanya sebuah pendekatan satu metode, akan tetapi kumpulan beberapa pendekatan dalam sebuah metode. Dalam dunia dakwah: hikmah bukan hanya berarti “mengenal strata mad’u” akan tetapi juga “Bila harus bicara, bila harus diam”. Hikmah bukan hanya “mencari titik temu” tetapi juga “toleran yang tanpa kehilangan sibghah”.Hikmah bukan hanya dalam kontek “memilih kata yang tepat” tetapi juga “cara berpisah”.Dan akhirnya hikmah adalah uswatun hasanah serta lisanul hal.

b)     Metode Dakwah Al-Mau’idzatil Hasanah

Term mau’idzah hasanah dalam perspektif dakwah sangat popular, bahkan dalam acara-acara seremonial keagamaan seperti mauled Nabi dan Isra Mi’raj. Istilah mau’idzah hasanah mendapat porsi khusus dengan arti “acara yang ditunggu-tunggu” yang merupakan inti acara dan biasanya menjadi salah satu target keberhasilan suatu acara. Namun demikian agar tidak menjadi salah paham, maka di sini akan dijelaskan pengertian mau’idzah hasanah.

Secara bahasa mau’idzah hasanah terdiri dari dua kata yaitu mau’idzah dan hasanah.Kata mau’idzah berasal dari bahasa Arab yaitu wa’adza – ya’idzu – wa’dzan yang berarti nasihat, bimbingan, pendidikan dan peringatan.

Adapun secara terminology, ada beberapa pengertian di antaranya:

1.      Menurut Imam Abdullah bin Ahmad an-Nasafi yang dikutip oleh Hasanuddin adalah sebagai berikut: Al-Mau’idzatil hasanah adalah perkataan-perkataan yang tidak tersembunyi bagi mereka, bahwa engkau memberikan nasihat dan menghendaki manfaat kepada mereka atau dengan al-Quran.

2.      Menurut Abdul Hamid Al-Bilali; mau’idzatil hasanah merupakan salah satu metode dalam dakwah untuk mengajak ke jalan Allah dengan cara memberikan  nasihat atau membimbing dengan lemah lembut agar mereka mau berbuat baik.

3.      Menurut Ibnu Syayyidiqi; memberi ingat kepada orang lain dengan fahala dan siksa yang dapat menaklukkan hati.

Dari beberapa definisi di atas, metode mau’idzah hasanah terdiri dari beberapa bentuk, di antaranya: nasehat , tabsyir watanzir , dan  wasiat

1)      Nasehat atau petuah

Nasehat adalah salah satu cara dari al-mau;izah al-hasanah yang bertujuan mengingatkanbahwa segala perbuatan pasti ada sangsi dan akibat. Secara terminology Nasehat adalah memerintah atau melarang atau mmenganjurkan yang dibarengi dengan motivasi dan ancaman. Sedangkan , pengertian nasegat dalam kamus besar Bahsa Indonesia Balai Pustaka adalah memberikan petunjuk kepada jalan yang benar.

Perintah saling menasehati ini dapat kita lihat pada beberapa ayat alqur’an di antaranya  :

a.       Surat al-Ashr ayat 1-3

artinya:

“Demi masa sesungguhnya manusia itu dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal saleh dan saling menasehati tentang kebenaran serta menasehati tentang kesabaran”

b.      Surat An-Nahl ayat 125

 

Artinya :

“Serulah manusia ke jalan Tuhanmu, dengan cara hikmah, pelajaran yang baik dan berdiskusilah dengan mereka dengan cara yang baik pula. Sesunggguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jaanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang orang yang mendapat petunjuk”

2)      Tabsyir watanzir

Tabsyir secara bahasa berasal dari kata basyara yang mempunyai arti memperhatikan/ merasa senang.Tabsyir dalam istilah dakwah adalah penyampaian dakwah yang berisi kabar-kabar yang menggembirakan bagi orang orang yang mengikuti dakwah.

Tujuan tabsyir :

a.       Menguatkan atau memperkokoh keimanan

b.      Memberikan harapan

c.       Menumbuhkan semangat untuk beramal

d.      Menghilangkan sifat keragu-raguan

Tandziratau indzar menurut istilah dakwah adalah penyampaian dakwah dimana isinya berupa peringatan terhadap manusia tentang adanya kehidupan akhirat dengan segala konsekuwensinya.

3)      Wasiat

Secara etimologi kata wasiat berasal dari bahasa arab ,yang terambil dari kata  Washa-Washiya-Washiyatan yang berarti pesan penting. Wasiat dapat dibagi menjadi Dua kategori, yaitu :

a.       Wasiat orang yang masih hidup kepada orang yang masih hidup, yaiitu berupa ucapan, pelajaran atau arahan tentang sesuatu.

b.      Wasiat orang yang telah meninggal (ketika menjelang ajal tiba) kepada orang yang masih hidup berupa ucapan atau berupamharta benda warisan.

Oleh karena itu , pengertian wasiat dalam konteks dakwah adalah : ucapan berupa arahan (taujih), kepada orang lain (mad’u), terhadap sesuatu yang belum dan akan terjadi (amran sayaqa mua’yan).

Wasiat diberikan apabila da’I telah mampu membawa mad’u dalam memahami seruannya atau disaat memberikan kata terakhir dalam dakwahnya (tabliq). Wasiat adalah salah satu model pesan dalam perspektif komunikasi, maka seorang da’I harus mampu memenej kesan(management impression) mad’u setelah menerima saruan dakwah. Sehingga wasiat yang diberikan mampu mempunyai efek positif bagi mad’u.efek wsiat terhadap mad’u antara lain :

a.       Memberdayakan daya nalar intelektual mad’u untuk memahami ajaran islam

b.      Membangun daya ingat mad’u secara kontinu, karena ada persoalan agama yang sulit di analisa

c.       Mengembalikan umat atau mad’u kepada eksitensi ajaran islam

d.      Membangun nilai-nilai kesabaran, kasih sayang dan kebenaran bagi kehidupan mad’u atau umat.

 

Dari beberapa pengertian di atas, istilah mau’idzah hasanah akan mengandung arti kata-kata yang masuk ke dalam kalbu dengan penuh kasih sayang dan ke dalam perasaan dengan penuh kelembutan, tidak membongkar atau membeberkan kesalahan orang lain sebab kelemah-lembutan dalam menasihati seringkali dapat meluluhkan hati yang keras dan menjinakkan kalbu yang liar, ia lebih mudah melahirkan kebaikan daripada larangan dan ancaman.

c)      Metode Dakwah Al-Mujadalah Bil Lati Hiya Ahsan

Dari segi etimology lapadz mujadalah diambil dari kata jadala yang artinya memintal, melilit. Apabila ditambahkan alif pada huruf jim yang mengikuti wazan faala menjadi jaadala dapat bermakna berdebat. Berarti arti mujadalah mempunyai pengertian perdebatan.

Kata jadala dapat bermakna menarik tali dan mengikatnya guna menguatkan sesuatu.Orang yang berdebat bagaikan menarik dengan ucapan untuk menyakinkan lawannya dengan menguatkan pendapatnya melalui argumentasi yang disampaikan.

Dari segi istilah terdapat beberapa pengertian al- mujadalah (al-hiwar).Al-mujadalah berarti upaya tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis tanpa adanya suasana yang mengharuskan lahirnya permusuhan di antara keduanya.

 

Adapun secara terminology, ada beberapa pengertian di antaranya:

1.      menurut Imam Ghazali dalam kitabnya Ikhya Ulumuddin menegaskan agar orang-orang yang melakukan tukar fikiran itu tidak beranggapan bahwa yang satu sebagai lawan bagi yang lainnya, tetapi mereka harus  menganggap bahwa para peserta mujadalah atau diskusi itu sebagai kawan yang saling tolong-menolong dalam mencapai kebenaran.

2.      Menurut Sayyid Muhammad Thantawi adalah suatu upaya bertujuan untuk mengalahkan pendapat lawan dengan cara menyajikan argumentasi dan bukti yang kuat.

3.      Menurut tafsir An-Nasafi, kata mujadalah mengandung arti berbantahan dengan jalan sebaik-baiknya antara lain dengan perkataan yang lunak, lemah lembut, tidak dengan ucapan yang kasar atau dengan mempergunakan sesuatu (perkataan) yang bisa menyadarkan hati, membangunkan jiwa dan menerangi akal pikiran.

 

Dari pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa yang disebut dengan mujadalah adalah merupakan tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis, yang tidak melahirkan permusuhan dengan tujuan agar lawan menerima pendapat yang diajukan dengan memberikan argumentasi dan bukti yang kuat.

 

 

Demikianlah pengertian tentang tiga prinsip metode tersebut. Selain metode tersebut Nabi Muhammad Saw bersabda :

 

“Siapa di antara kamu melihat kemunkaran, ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu, ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu, ubahlah dengan hatinya, dan yang terakhir inilah selemah-lemah iman.”[ H.R. Muslim ].

 

Dari hadis tersebut terdapat tiga tahapan metode yaitu ;

a)      Metode dengan tangan [bilyadi], tangan di sini bisa difahami secara tektual ini terkait dengan bentuk kemunkaran yang dihadapi, tetapi juga tangan bisa difahami dengan kekuasaan atau power, dan metode dengan kekuasaan sangat efektif bila dilakukan oleh penguasa yang berjiwa dakwah.

b)      Metode dakwah dengan lisan [billisan], maksudnya dengan kata-kata yang lemah lembut, yang dapat difahami oleh mad‟u, bukan dengan kata-kata yang keras dan menyakitkan hati.

c)      Metode dakwah dengan hati [bilqolb], yang dimaksud dengan metode dakwah dengan hati adalah dalam berdakwah hati tetap ikhlas, dan tetap mencintai mad‟u dengan tulus, apabila suatu saat mad‟u atau objek dakwah menolak pesan dakwah yang disampaikan, mencemooh, mengejek bahkan mungkin memusuhi dan membenci da‟I atau muballigh, maka hati da‟i tetap sabar, tidak boleh membalas dengan kebencian, tetapi sebaliknya tetap mencintai objek, dan dengan ikhlas hati da‟i hendaknya mendo‟akan objek supaya mendapatkan hidayah dari Allah SWT.

 

Selain dari metode tersebut, metode yang lebih utama lagi adalah bil uswatun hasanah, yaitu dengan memberi contoh prilaku yang baik dalam segala hal.Keberhasilan dakwah Nabi Muhammad SAW banya ditentukan oleh akhlaq belia yang sangat mulia yang dibuktikan dalam realitas kehidupan sehari-hari oleh masyarakat.Seorang muballigh harus menjadi teladan yang baik dalam kehidupan sehar-hari.

 

D.    Aplikasi Metode Dakwah

Ketiga metode dakwah tersebut diaplikasikan dalam berbagai pendekatan, diantarnya yaitu :

a)      Personal; pendekatan dengan cara ini terjadi dengan cara individual yaitu antara da’i dan mad’u langsung bertatap muka sehingga materi yang disampaikan langsung diterima dan biasanya reaksi yang ditimbulkan oleh mad’u akan langsung diketahui.

b)      Pendekatan Pendidikan; pada masa Nabi, dakwah lewat pendidikan dilakukan beriringan dengan masuknya Islam kepada kalangan sahabat.Begitu juga pada masa sekarang ini, kita dapat melihat pendekatan pendidikan teraplikasi dalam lembaga-lembag pendidikan pesantren, yayasan yang bercorak Islam ataupun perguruan tinggi yang didalamnya terdapat materi-materi keislaman.

c)      Pendekatan Diskusi; pendekatan diskusi pada era sekarang sering dilakukan lewat berbagai diskusi keagamaan, da‟i berperan sebagai nara sumber sedang mad’u berperan sebagai undience.

d)     Pendekatan Penawaran; cara ini dilakukan Nabi dengan memakai metode yang tepat tanpa paksaan sehingga mad‟u ketika meresponinya tidak dalam keadaan tertekan bahkan ia melakukannya dengan niat yang timbul dari hati yang paling dalam.

e)      Pendekatan Misi; maksud dari pendekatan ini adalah pengiriman tebaga para da‟i ke daerah-daerah di luar tempat domisisli.

 

E.     Klasifikasi Ayat Dakwah Dalam Al-Qur’an

Kewajiban bagi setiap manusia untuk berdakwah

 

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

 

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”

 

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

 

Dalam berdakwah harus memiliki kekuatan, bagaikan pohon yang berakar bukan pohon yang rapuh

 

 

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit”.

 

pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”.

 

Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun”.

 

 

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki”.

 

Dalam berdakwah perlu di susun barisan atau organusasi

 

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”.

 

 

Demi (rombongan) yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya, dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya (dari perbuatan-perbuatan ma`siat), dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran”.

 

Dakwah bukan masalah yang gampang, oleh sebab itu sedikit sekali orang yang sungguh-sungguh dalam berdakwah

 

Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa”.

 

Seorang muballigh/ juru dakwah  harus memiliki jiwa pemaaf

 

Katakanlah kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tiada takut akan hari-hari Allah karena Dia akan membalas sesuatu kaum terhadap apa yang telah mereka kerjakan”.

Dakwah merupakan sarana untuk menyampaikan ayat-ayat Allah / peringatan-peringatan Allah

 

Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan”.

 

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.

 

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”.

 

Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfa`at bagi orang-orang yang beriman”.

Dalam berdakwah hendaknya menggunakan bahasa yang mudah dimengerti

 

Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni`mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”.

 

Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana”.

 

Dalam berdakwah tidak boleh memaksa

 

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

 

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya.Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya”.

Dalam berdakwah tidak boleh terlalu berharap, bahwa yang didakwahi pasti mengikuti dan beriman

 

Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman –walaupun kamu sangat menginginkannya”.

 

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik“.

Sebagian manusia tidak memperdulikan dahwah/ ajakan kembali kepada ayat-ayat Allah

 

Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)?”,

 

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?

 

Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup.Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

 

Dan tak ada suatu ayatpun dari ayat-ayat Tuhan sampai kepada mereka, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya (mendustakannya).

 

Dalam berdakwah tidak boleh meminta upah

 

Dan (dia berkata): “Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui”.

 

Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini, Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan (nya)?”

 

Katakanlah: “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya.”

 

Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal saleh. Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan”. Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Tantangan dalam berdakwah

 

Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al Qur’an)”.

 

Dan sesungguhnya dalam Al Qur’an ini Kami telah ulang-ulangi (peringatan-peringatan), agar mereka selalu ingat. Dan ulangan peringatan itu tidak lain hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).”.

 

Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Qur’an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari (nya)”.

 

Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.”

 

 

Dan mereka berkata: “Mengapa ia tidak membawa bukti kepada kami dari Tuhannya?” Dan apakah belum datang kepada mereka bukti yang nyata dari apa yang tersebut di dalam kitab-kitab yang dahulu?

 

F.     Kode Etik Dakwah

            Secara islam etika dakwah itu adalah etika islam itu sendiri , dimana secara umum seorang da’I harus melakukan tindakan-tindakan yang terpuji dan menjauhkan diri dari perilaku-perilaku yang tercela. Dan pengertian kode etik dakwah adalah rambu rambu etis yang harus dimiliki oleh seorang juru dakwah , namunsecara khusus dalam dakwah terdapat kode etik tersendiri. Dalam berdakwah terdapat beberapa etika yang merupakan rambu-rambu etis juru dakwah, sehingga dapat dihasilkan dakwah yang bersifat responsive.Dan sumberdari rambu-rambu etis dakwah bagi seorang da’iadalah Al-Qur’an, seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Adapun rambu-rambu etis tersebut adalah sebagai berikut :

1.      Tidak memisahkan anara ucapan dan perbuatan

         Kode etik ini bersumber dari firman allah dalam Surat Al-Shaff ayat 2-3 yang artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan hal-hal yang kalian tidak melakukannya ?amat besar murka di sisi Allah, bahwa kalian menngatakan apa yang kalian tidak kerjakan.”

2.      Tidak melakukan toleransi agama.

         Toleransi memang di anjurkan oleh Islam, tetapi hanya dalam batas-batas tertentu dan tidak menyangkut masalah agama (kepercayaan). Dalam masalah prinsip keyakinan (Aqidah), islam memberikan garis tegas untuk tidak bertoleransi, kompromi dan sebagainya.seperti yang tergambar dalam Surat Al-Kafirun ayat 1-6.

(4) عَبَدْتُمْ مَا عَابِدٌ أَنَا اوَلَا (3) أَعْبُدُ مَا عَابِدُونَ أَنْتُمْ اوَلَا (2) تَعْبُدُونَ مَا أَعْبُدُ الَا (1) نالْكَافِرُو أَيُّهَا يَا قُلْ

 (6) دِينِ وَلِيَ دِينُكُمْ لَكُمْ (5) عَابِدُونَ مَا عَابِدُونَ أَنْتُمْ اوَلَا

Artinya :

“Katakanlah : Hei orang-orang kafir , aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah . Dan kamu bukan penyembah Tuhan apa yang aku sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.Untukmu lah agama mu, dan untukku lah agama ku.”

Dalam hal ini pula bias dilihat dalam surat Al-Khafi ayat 29

Artinya:

         “Dan katakanlah : kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. Sesungguhnya kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka.Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka, itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.”

3.      Tidak menghina sesembahan non muslim

         Kode etik ini diambil dari QS. AlAn’am ayat 108 Artinya :

“Dan janganlah kamu memakai sembah-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.”

         Peristiwa ini berawal ketika pada zaman Rasulullah orang-orang muslim pada saat itumencerca berhala-berhala sembahan orang-orang musrikin, dan akhirnya karena hal itu menyebabkan mereka mencerca Allah, maka Allah menurunkan ayat tersebut.

4.      Tidak melakukan diskriminasi social

         Apa bila mensuri tauladan Nabi maka para da’I hendaknya tidak membeda-bedakan atau pilih kasih anatara sesame , baik kaya maupun miskin, kelas elit maupun kelas marjinal ataupun status lainnya yang menimbulkan ketidak adilan. Semua harus mendapatkan perlakuan yang sama. Karena keadilan sangatlah penting dalam dakwah.Da’I harus menjunjung tinggi hak universal dalam berdakwah.Kode etik ini di dasari pada QS.Abasa ayat 1-2.

(2) الْأَعْمَى جَاءَهُ أَن (1) وَتَوَلَّى عَبَسَ

Artinya :

“Dia (Muhammad) bermuka musam dan berpaling, Karena karena telah dating seorang buta kepadanya.”

5.      Tidak memungut imbalan

         Ada perbedaan pendapat tentang dibolehkannya ataupun dilarang dalam memungut biaya atau dalam bahasa lain memasang tariff , dalam hal ini berpendapat menjadi 3 kelompok:

a.       Mazhab Hanafi berpendapat bahwa memungut imbaan dalam berdakwah hukumnya haram secara mutlak, baik dengan perjanjian sebelumnya ataupun tidak.

b.      Al-Hasan Al-Basri, Ibn Sirin, Al-Sya’ibi dkk. Mereka berpendapat boleh hukumnya memungut bayarab dalam berdakwah tapi harus di adakan perjanjian terlebih dahulu.

c.       Imam Malik bin Anas & Imam Syafei, memperbolehkan memungut biaya atau imbalan dalam menyebarkan ajaran islam baik ada perjanjian sebelumnya maupun tidak

              Perbedaan pendapat dari para ulama terjadi Karena banyaknya teks-teks Al-Qur’an yang menjadi sumber etika sehingga muncul perbedaaan dalam penafsiran dan pemahamannya.

6.      Tidak mengawani pelaku maksiat

              Berkawan dengan pelaku maksiat ini di khawatirkan akan berdampak buruk. Karena orang bermaksiat itu beranggapan bahwa seakan-akan berbuat maksiat direstui oleh dakwah, pada sisi lain integritas seorang da’I akan  berkurang.

7.      Tidak menyampaikan hal hal yang tidak diketahui

              Da’I yang menyampaikan suatu hokum, sementara ia tidak mengetahui, hokum itu pasti akan menyesatkan umat. Seorang juru dakwah tidak boleh asal menjawab pertanyaan orang menurut seleranya sendiriyang tanpa ada dasar hukumnya.

 

 Karakteristik Kode Etik Dakwah

   Yang menjadi karakteristik dari etika dakwah adalah karakteristik dari etika islam itu sendiri. Dimana cakkupannya terdiri dari sumber moral dakwah. Standar yang digunakan untuk menentukan baik buruknya tingkah laku sang da’I, pandangan terhadap dan naluri.

1.      Al-Quran dan sunah sumber moral

               Karena pada dasarnya Al-Qur’an itu sendiri merupakan dakwah yang terkuat baggi pengembangan islam karena Al-Qur’an mencangkup cerita orang-orang terdahulu dan syariat –syariatnya srta hukum-hukumnya

2.      Akal dan Naluri

               Dalam menentukan baik dan buruk dalam etika dakwah adalah akal dan naluri. Dalam etika islam akal dan naluri berpendirian sebagai berikut :

a.       Akal dan nalluri adalah anugerah Allah

b.      Naluri yang mendapatkan pengarahan dari petunjuk Allah yang dijelaskan dalam kitabnya

c.       Akal dan pikiran mannusia terbatas sehingga pengetahuan manusia terbatas dan manusia tidak akan mampu memecahkan seluruh permasalahan yang ada. Akan tetapi hanya akal yang dipancari cahaya Al-Qur’an yang bias menempatkanpada tempatnya.

3.      Motivasi Iman

               Dalam melakukan tugas dakwah haruslah memiliki motivasi ataupun pendorong dalam melakukan segala aktivitasnya yaitu Aqidah dan iman yang terpatri dalam hati.Imanitulah yang mendorong seorang da’I mampu berbuat ikhlas, beramal sholeh, bekerja keras dan rela berkorban.iman yang sempurna akakn menjelmakan cinta dan taat kepada Allah.

“Sekali-kali seseorang Mukmin merasa kenyang (puas) mengerjakan kebajikan, menjelang puncaknya mamasuki syurga” (HR. Tirmizi)

 

Hikmah Dalam  Etika Dakwah

            Secara umum hikmah dalam mengaplikasikan kode etik dakwah itu adalah :

1)      Kemajuan rohani.

dimana bagi seorang juru dakwah ia akan selalu berpegang pada rambu-rambu garis islam, maka secara otomatis, ia akan memilliki akhlak yang mulia.

2)      Sebagai penuntuk kebaikan.

Kode etik dakwah menuntut da’I pada jalan kebaikan tepi mendorong dan memotivasimembentuk kehidupan yang suci dengan memprodusir kebaikan dan kebijakan yang mendatangkan kemanfaatan bagi sang da’i khususnya, dan umat islam pada umumnya.

3)      Membawa kesempurnaan iman

Iman yang sempurna akan melahirkan kesempurnaan diri. Dengan kata lain, bahwa keindahan etika adalah manifestasi dari pada kesempurnaan iman. Abu Hurairah meriwayatkan penegasan Rasulullah saw. :

“Orang mukmin yang paling sempurna ialah yang terbaik akhlak dan etikanya” (Hr. at-tirmizi)

4)      Kerukunan antar umat beragama, untuk membina keharmonisan secara extern dan intern pada diri sang da’i